BART - Bar at The Roof Top - Artotel Jakarta

Selasa, 16 Juni 2015 0 komentar

Aku lagi duduk duduk cantik di lobby Artotel ketika melihat gerombolan anak anak muda kekinian hilir mudik. Wah kok rame banget? Ada apa sih? Ini kan udah mo tengah malem?

Ketika akan balik ke kamar, di lift saya menjumpai keterangan Level 7 : BART - Bar at The Roof Top.
Aha! darah muda pun bergejolak. Sayangnya temanku hari itu sudah kelelahan sehingga malam minggu ini kami tidak kemana mana. Sampa di kamar dan berusaha tidur, saya mendengar jerit jerit fans bola yang sedang menikmati nontong bareng Liga ntah apa itu. Hingga dini hari terkadang saya masih bisa dengar suara "Goooll!" atau suara suporter bola lainnya. Padahal ini lantai 3!

Akhirnya malam seninnya, dengan dress up seadanya (high heels + dress + clutch), aku dan si teman beranjak ke lantai 7. Kami langsung disambut dan ditanya mau duduk mana.

Dalam gelap malam diterangi bintang bintang tanpa bulan #eeeaaa
Ups ralat!
Dalam gelap yang hanya diterangi lampu lampu disko dari serta hingar bingar musik, sulit menentukan pilihan. Dan sulit juga mau berkomunikasi dengan teman karena harus sedikit menjerit biar gak kalah sama DJ. BART ini sebenarnya konsepnya semi outdoor. Meski ada pilihan duduk di sofa, namun tetep aja berasa di luar ruangan. Terlebih karena ada minimun payment untuk duduk di sofa, kami lebih memilih duduk di luar saja yakni duduk di kursi pojok layaknya standing bar sambil melihat pemandangan ibukota dari atas. Pilihan ini emang paling cocok karena lebih berasa udara segar tanpa asap rokok serta jauh dari si DJ.

BART Artotel Jakarta
BART Artotel Jakarta
Si teman memesan kesukaannya, vodka tonic sedangkan saya memilih "terserah" asalkan manis. Hingga dua minuman diorder nggak satupun mocktailnya yang saya habiskan haha. Makanan yang tersedia hanya snacks jadi disarankan makan kenyang dulu sebelum ke sini yah.

BART Artotel Jakarta
Suasana BART ketika masih kosong

Btw, hasil pengamatan di sana, rata rata pengunjung yang datang adalah anak muda mungkin karena tempat ini lagi ngeheitz banget. Saya dan kawan jadi berasa ketuaan nih!

Dari segi pemandangan, karena lokasinya kurang tinggi, viewnya agak terbatas dan menjadi kurang menarik.
Namun karena ada techno music sepanjang malam dan beberapa orang yang berjoget dan heboh sendiri, kami juga jadi terbawa suasana dan menikmati. Boleh deh bagi yang mau nongkrong nongkrong, toh tempatnya strategis juga kan di pusat kota.

Selesai hangover pukul 1 dini hari sebelum mereka tutup, kami langsung turun ke kamar dan tumbang. Zzzzz... Good Night!

**
BART - Bar at The Roof Top - Artotel
Jalan Sunda No.3, Jakarta Thamrin, 10350, Indonesia (persis di Belakang Sarinah)

Dresscode : tidak ada larangan namun kalau bisa tetap berdandan layaknya mau ke club (no sandal, no short for man, no t-shirt)

Artotel, Boutique Hotel strategis di Thamrin Jakarta

Senin, 15 Juni 2015 0 komentar

Mungkin ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Di tengah terik Jakarta, bangunan ini berdiri mentereng dengan tattonya yang berwarna ungu, penuh dengan gambar cumi cumi dan gambar abstrak lainnya. Katanya itu simbol dari kemacetan dan kesemrawutan ibukota dan dia bangga mendapatkannya dari Darbotz, seorang seniman yang mencintai tantangan hidup di Jakarta.

Lalu aku coba menghampirinya. Berkenalan dengannya. Artotel namanya, sebuah Boutique hotel yang menggabungkan konsep "Art" + "Hotel" ke dalamnya. Tak perlu banyak basa basi, aku dapat melihatnya sendiri dari aneka pilihan furnitur nyeleneh serta design unik sebagai pembuktiannya.

Artotel jakarta
Meski Artotel terbilang munggil, namun arsitektur lobby yang meninggi hingga ke lantai dua tempat galeri lukisan dipajang membuat kesan lega. Berada dekat dengannya, aku bisa mencium wewangian khasnya yang terpancar dari beberapa vas bunga hidup yang baunya bikin kangen ketika pulang / pergi dari hotel.

Lobby dan lantai dua Artotel Jakarta
Selama proses check-in, dia menyambutku cepat dan hangat. Saya bersyukur telah menelponnya jauh jauh hari karena yang PDKT denggannya cukup banyak loh. Dengan total hanya 107 kamar, Beberapa tamu yang datang harus kecewa karena sudah fully booked untuk beberapa hari ke depan.

Selesai proses check-in yang mulus, aku diberikan kunci kamar yang juga berfungsi sebagai kunci lift. Untung saja dapatnya di lantai 3 karena jauh dari lantai 7 dimana BART - Bar at The Roof Top - berada. Soalnya jika tidak, bagi yang susah tidur, bunyi musik hingga tengah malam bisa saja dirasa menggangu.

Kabarnya tiap lantai punya design yang berbeda. Untuk lantai 3, aku dapat melihat sisi Artotel yang lebih simple serta dominasi akan warna hitam dan putih di ruangan. Aku sempat terpana dengan goresan tangan Zaky Arifin, berupa gambar Beruang di atas tempat tidur. Namun begitu melihat dinding sampingnya, aku terkejut karena hanya berupa dinding semen biasa. Selidik punya selidik, si Artotel memang membiarkannya seperti itu, meninggalkan beberapa kesan natural dengan unfinished design. Begitu saya crosscheck dengan kamar teman, ternyata sama saja. Yang membedakan hanya kamar temanku dihias dengan gambar gajah. Namun selebihnya sama. Sama sama ada tulisan "Have a wild dream" di atas gambar.

Kamar tidur studio 03 Artotel Jakarta
Paginya, aku turun ke bawah dengan perut keroncongan. Waktu belum menunjukkan jam 6 pagi namun Artotel udah sigap melayani beberapa tamu. Berada di Restauran RoCA (Restaurant of Contemporary Art), aku bingung harus mulai darimana. Semua stand makanan / minuman serasa memanggil manggil. Siomay (ayam & udang), hashbrown, sosis ayam, bacon-nya tidak aku lewatkan. Oh satu lagi yang sayang dilewatkan adalah kehadiran mbok jamu berpakaian kebaya modern. Dengan gendongan kain, dia menawarkan pengunjung berbagai ramuan yang mempermudah hidup.
"Ini neng beras kencur untuk menambah nafsu makan."
Duh si mbok, saya emang kurus namun coba deh lihat aku sewaktu breakfast.
"Kalau ini jahe, buat masuk angin."
Ah si mbok, tahu aja AC kamar dinginnya mengigit.
Namun, akhirnya aku putuskan hanya minum one shot madu murni saja.

Seduh kopi sambil melihat lukisan abstrak
Bagi yang harus memulai harinya dengan racun rokok, bisa duduk di sebelah luar Restoran RoCA. Namun tidak perlu merasa terpojokkan, karena di luar design nya pun tetap ciamik.

Smoking Area di restoran Artotel Jakarta
Selesai mengisi perut berkali kali, aku dan kawanku langsung meminjam sepeda hotel (Rp.50.000 / 4 jam) dan mengayuhnya ke Car Free Day. Lokasi Artotel yang persis di tengah kota sungguh sangat nyaman!


Di hari hari terakhir bersama Artotel, badanku mulai mendambakan sensasi pijitan yang melonggarkan tulang tulang. Aku lalu menghubungi resepsionis untuk booking spa & massages.
"Baik ibu, therapist kami akan segera menuju kamar anda." jawab resepsionis.
15 menit kemudian...
Datanglah mbak mbak ayu berseragam pink dengan perlengkapannya. Karena keterbatasan ruang, spa & massagenya dilakukan di kamar masing masing. Si mbak ayu pun menggelar kain batik di atas tempat tidur, dan sesi Traditional Massage selama 60 menit pun berlangsung. I'm in heaven!

***
Baru kali ini saya mengenal sebuah hotel dengan begitu detail. Kalau biasanya di hotel cuma buat bobo dan WC, namun di sini beda. Hampir semua fasilitas aku coba. I've stayed for 5 days and it really feels Home. Selain itu hotel ini lagi nge-hitz di kalangan anak muda atau sosialita Jakarta. Satu satunya yang bisa saya keluhkan adalah hotel ini minus kolam renang dan di RoCA restaurant serta BART seringkali saya digigiti nyamuk. Other than that, you'll definitely see me here again!

Artotel Jakarta
Jalan Sunda No.3, Jakarta Thamrin, 10350, Indonesia (persis di Belakang Sarinah)
Telp : 021-31925888
Rate : Mulai dari Rp.800.000,- ( termasuk Breakfast)

Gentala Arasy Icon Baru Jambi

Selasa, 02 Juni 2015 0 komentar

Provinsi Jambi sempat punya beberapa icon yang melekat padanya. Sebut saja candi muara jambi, harimau sumatera yang terus terusan diburu hingga suku anak dalam yang telah diangkat kisah hidupnya dalam sebuah film layar lebar.

Namun, icon icon tersebut sayangnya berasal dari luar kota Jambi. Yah lebih banyak berada di pelosok kabupaten atau dalam hutan. Sebagai seorang anak jambi pun saya mengaku malu belum pernah bertemu suku anak dalam. Kalau melihat harimau sumatera yang dikurung sih masih ada di kebun binatang.

Jikalau ada wisatawan / teman bertandang ke kota jambi sendiri, lebih sering saya rekomendasikan untuk wisata kuliner. Murah, enak, sehat dan ada dimana mana.

Namun baru baru ini, pemerintah kota Jambi mengeluarkan terobosan mutakhir yakni sebuah icon baru yakni Jembatan pedestrian dan Museum Gentala Arasy pada 28 Maret 2015. Tidak tanggung tanggung Wapres Jusuf Kalla lah yang meresmikan landmark baru kota Jambi ini.

Jembatan Gentala Arasy yang bentuknya meliuk liuk seperti huruf S di atas sungai Batanghari ini hanya dikhususkan bagi pejalan kaki. Jadi tidak perlu takut kena serempet motor. Jembatan yang menghubungkan kota jambi dengan seberang jambi ini tidak hanya menjadi tempat wisata tetapi juga solusi bagi masyarakat di dua tempat ini untuk mencapai ke daerah seberangnya. Sebelum ada jembatan ini, mereka harus menaiki ketek (kapal kayu kecil dengan mesin yang bunyinya tek tek tek).

Panjang jembatan yang mencapai 503 meter dengan lebar 4,5 meter ini lumayanlah buat olahraga jalan kaki. Sayangnya jembatan yang bertahun tahun ditunggu hingga menelan dana 88,7 miliar (WOW!) ini malah tidak menyediakan tong sampah sehingga kadang kala tampak banyak sampah berserakan. Yang lebih parah banyak juga pengunjung yang langsung membuang sampah ke sungai batanghari yang telah coklat itu. Ckckkc!
Jembatan Gentala Arsy jambi
Nah di ujung jembatan ini, berdirilah bangunan setinggi 80 meter yang disebut juga Menara Gentala Arasy yang tidak lain adalah museum yang mempertontonkan sejarah serta barang barang peninggalan dari masa lampau. Luasnya tidak besar, cukup 15 menit untuk mengitarinya. Yang menarik perhatian saya justru adanya rombongan SD yang sedang tur wisata dan menonton film film khas jambi seperti suku anak dalam atau tentang perkembangan Islam di kota Jambi di bioskop mini yang terletak di lantai paling bawah.
Menara sekaligus Museum Gentala Arasy
Sayangnya pihak manajemen belum membuat jadwal film dan kapan tayangnya sehingga jika ingin menonton lebih baik menanyakan dulu jauh jauh hari atau mem-bookingnya untuk acara.

Di luar menara ini, terdapat tempat duduk yang telah diberi perlindungan agar tidak terlalu panas. Cocoklah bagi anak muda yang ingin nongkrong sore sore sambil menyeruput es tebu dan jagung bakar. Bagi yang membawa anak anak, tempat ini juga bikin betah karena ada penyewaan skuter dengan harga 15 menit / Rp.5.000. Murah yah? Pokoknya sesuai kantong rakyat banget deh.

Ps : Jembatan dan museum ini tidak dikenakan biaya. Kunjungilah selagi fasilitas masih memadai dan gratis.Tapi sewaktu libur nasional, saya berkunjung ke museumnya malahan tutup. Ealah! bukannya justru karena lagi libur yah kita baru sempat ke museum?

Lokasi :
Di depan Rumah Dinas Gubernur Jambi / Di samping mall WTC / lebih dikenal juga kawasan Ancol :)

Pantai Mawun Lombok

Minggu, 17 Mei 2015 0 komentar

Setelah mengantar teman teman saya pulang di bandara, tinggalah saya di Lombok sendiri. Saya langsung mikir "nah, enaknya sekarang kemana yah?" sambil melihat jam. Masih ada waktu setengah hari sebelum penerbangan terakhirku.

Berbekal rekomendasi dari Zi, temanku yang asli Lombok kami menuju Pantai Mawun, yang diklaim satu dari the very best beach here. Cabuut!

Perjalanan dari bandara Lombok menuju Pantai ini mulus sekali. Heran yah salut deh ama lombok yang jalannya nggak ada bolong atau polisi tidur. Macet? Apa itu?

Kami sempat melewati bukit Asthari berhenti bentar lalu nongkrong cantik di kafe sambil menyeruput jus. Slurrp! Pemandangan pulau ini dari ketinggian sangat menggoda. Belum lagi hawanya yang sejuk bikin betah berlama lama.

Setelah puas, perjalanan dilanjutkan menuju selatan Lombok. Total ada 1,5 jam kami tiba di gerbang pantainya. Dan inilah pantai mawun.
Pantai Mawun
Ciri khas Pantai Mawun adalah pantai indah yang berbentuk seperti tapal kuda dengan bukit bukit yang mengelilinginya. Pasirnya putih lembut dengan perpaduan warna air berwarna hijau hingga menjadi semakin biru. Jika mau berenang, waspadalah karena ombaknya cukup deras. Berdiri di pinggir pantai saja saya suka merasa diseret seret masuk ombaknya. Pernah loh ada kasus sekeluarga meninggal terseret ombak. Perlu diketahui juga tidak ada penjaga pantai sehingga selalu berhati hati melihat kedalaman air.

Bermain ombak di Pantai mawun
Pantai ini hanya mempunyai fasilitas minim dan hanya tersedia gubuk kayu dimana para warga lokal menjual makanan / minuman ala kadarnya dan ada juga WC buat sekedar berbilas dan buang air. Jadi yang paling ideal jika mau piknik sekeluarga bawalah tikar sendiri dan bekal makanan.

Satu satunya hal yang tidak mengenakkan selama di sini ialah para penjual oleh oleh yang agresif memaksa kita untuk membeli. Huft!

Berlayar di Teluk San Diego

Jumat, 15 Mei 2015 0 komentar

San Diego merupakan salah satu daerah yang cukup populer di California. Cuacanya yang selalu adem sepanjang tahun membuatnya jadi pilihan destinasi yang menarik.

Sore itu, saya bergegas menuju ke harbour untuk ikut naik cruises.
Hari itu masih musim panas dan matahari bersinar seperti biasa. Para bule bule mengenakan baju tipis seadanya. Namun sayang kulit tropis saya belum bisa beradaptasi sebaik itu. Dengan pilihan dresscode paling boring - jaket hitam sedikit tebal dan celana panjang hitam - saya tetap antusias akan mengikuti tur ini sambil menghalau dingin.
Di depan kapal
Setelah mengambil tiket di loketnya yang tak jauh dari pelabuhan, Cruises yang saya naiki yakni Hornblower Cruises & Events rupanya telah memanggil manggil pertanda siap berangkat. Saya pun bergegas masuk ke kapal. Rute yang bakal ditempuh yakni mengelilingi teluk San Diego bagian selatan.
Bersantai di atas kapal
Para penumpang bebas ingin duduk / berdiri di lantai pertama (indoor) atau memilih seperti saya. Berada di outdoor atau lantai dua menikmati hembusan angin. Lama kelamaan, pemandangan pinggiran kota San Diego yang dipenuhi bangunan tinggi berganti dengan biru laut dan langit.
Kota San Diego terlihat dari pinggir harbour front
Salah satu highlight dari perjalanan ini adalah kami mengarungi teluk melewati kolong jembatan Coronado Bridge sepanjang 3.4km yang dicap sebagai jembatan ketiga dengan paling banyak kasus bunuh diri di USA. Jembatan ini menjadi penghubung antara San Diego dengan pulau Coronado, sebuah pulau kecil dimana disana terdapat beberapa fasilitas angkatan lautnya Amerika Serikat. Pantes saja disepanjang teluk ini banyak kapal kapal besar milik pemerintah sepertinya yang sedang terparkir. Tapi jangan salah pulau Coronado ini juga dilirik wisatawan sebagai resort city loh!
Banyak kapal kapal raksasa militer yang sedang parkir
Jembatan Coronado dari kapal
Di penghujung rute cruise ini, saya dapat melihat segerombolan singa laut. Kapal mendekat lumayan dekat hingga tercium bau amis dari binatang ini. Begitu kapal berlalu, mereka pun bersuara "nguik nguik" menyampaikan salam perpisahan. Di situ jugalah kapal berputar arah lalu kembali ke titik awal. Rupanya jika dikit lagi kita berlayar, udah masuk kawasan negara Mexico loh. Paspor mana paspor mana?

Selama perjalanan kurang lebih sejam, hal yang saya sesali adalah punya cemilan karena tidak mampu membelinya di kantin kapan. Udah sedikit harganya mahal pula! Bah!

Pantai Kuta Lombok

Minggu, 10 Mei 2015 0 komentar

Bali punya pantai pantai indah. Salah satunya yang kesohor itu pantai Kuta.
Namun sejak Lombok booming, boleh dikata dua daerah bertetangga ini mulai harus bersaing untuk memperebutkan wisatawan.

Bali memang telah mapan pariwisatanya dan juga terkenal seantero jagat. Hal ini lah yang membuatnya juga kelimpahan banyak pengunjung, macet dan terlalu ramai (kadang-kadang).

Bagaimana dengan lombok? Saya merasa Lombok adalah jelmaan Bali ketika remaja. Masih muda dan perawan. Infrastruktur boleh dikata masih kurang tapi itu tak mengurangi keelokannya.

Kecantikan lombok juga dapat dilihat dari banyaknya pantai pantai indah salah satunya adalah pantai kuta. Tidak tahu juga kenapa pantai ini bernama sama dengan kompetitornya. Mungkinkah berharap dapat menyaingi tetangga sebelah?

Berada di kabupaten Lombok Tengah, pantai putih sepanjang 7,2 kilometer ini terlihat sepi ketika saya datang. Mungkin karena pengaruh jam makan siang yah? Dan memang matahari lombok yang sepertinya ada 2 membuat tidak ada satupun pengunjung di siang hari bolong ini.

Pantai Kuta Lombok
Sepanjang laporan mata, tidak ada pohon atau tempat berteduh, jadi bagi yang mau leyeh leyeh bawa sendiri yah tikarnya. Perhatikan juga kedalaman air dan ombak, sekedar berjaga berjaga karena tidak ada penjaga pantai jika terjadi apa apa. Selebihnya pantai alami ini milik kalian!
pantai-kuta-lombok
Pantai Kuta Lombok

Kalau merasa lapar persis di depan pantai ada restoran Anda yang makanannya enak enak banget. Sila dicoba!

Satu satunya hal yang kurang mengenakkan dari pantai ini adalah beberapa anak anak dan remaja yang mengekor menawarkan dagangannya. Huft!

Grand Central Terminal New York

Selasa, 05 Mei 2015 0 komentar

"Lebih dari sebuah pusat transportasi. Bukan sembarang stasiun"
Begitulah batinku ketika masuk ke Grand Central Terminal yang terletak di 42street New York.

Grand Central Terminal
Kalau di Indonesia, kata terminal berkonotasi negatif. Yang terlintas di pikiranku adalah parkiran yang semrawut, bus tua yang uzur yang kalau batuk batuk mengeluarkan asap hitam pekat. Belum lagi fasilitas dan infrastruktur yang jauh dari standar. Jalan becek, toilet kotor dan calo yang mondar mandir adalah sesuatu yang lebih bisa dikata normal.

Jadi begitu tiba di Grand Central Terminal tak heran saya melongo. Luas, bersih dan indah. The Grand Central Terminal memang tidak hanya mementingkan fungsi tetapi juga tak lupa memasukkan unsur seni di dalam bangunannya. Seperti gambar saya di atas, tengoklah ke atas. Ada lukisan cantik di langit langit berwarna hijaun-nya. Lihat ke bawah, maka saya tersadar menjejakkan kaki pada lantai marbel di sepanjang terminal. Kala itu hari sudah malam, lampu memang dibuat sedikit temaram namun suasana yang dihasilkan jadi berbeda.
Nongkrong di Terminal

Saya sengaja ke sini tanpa punya hasrat mencari bus / subway. Niatnya cuma mau jalan jalan. Dan The Grand Central Terminal ini tau persis banyak turis yang berpikiran sama seperti saya. Tak heran bila akhirnya terminal ini dipenuhi oleh restoran serta tempat belanja dan pasar. Bahkan ada Tour dengan guidenya juga bagi yang berminat dan mau bayar. Kalau saya sih tentu milih yang gratisan, duduk duduk melihat orang dan menghabiskan waktu di tengah dinginnya kota New York.

Tak heran, icon yang kerap muncul di film film Hollywood ini termasuk dalam salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat. Kalau punya waktu senggang, mari kita bersua di sini kembali.

Keindahannya dijadikan gambar di tiket subway (kiri)

 
Wisata © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets