Pantai Mawun Lombok

Minggu, 17 Mei 2015 0 komentar

Setelah mengantar teman teman saya pulang di bandara, tinggalah saya di Lombok sendiri. Saya langsung mikir "nah, enaknya sekarang kemana yah?" sambil melihat jam. Masih ada waktu setengah hari sebelum penerbangan terakhirku.

Berbekal rekomendasi dari Zi, temanku yang asli Lombok kami menuju Pantai Mawun, yang diklaim satu dari the very best beach here. Cabuut!

Perjalanan dari bandara Lombok menuju Pantai ini mulus sekali. Heran yah salut deh ama lombok yang jalannya nggak ada bolong atau polisi tidur. Macet? Apa itu?

Kami sempat melewati bukit Asthari berhenti bentar lalu nongkrong cantik di kafe sambil menyeruput jus. Slurrp! Pemandangan pulau ini dari ketinggian sangat menggoda. Belum lagi hawanya yang sejuk bikin betah berlama lama.

Setelah puas, perjalanan dilanjutkan menuju selatan Lombok. Total ada 1,5 jam kami tiba di gerbang pantainya. Dan inilah pantai mawun.
Pantai Mawun
Ciri khas Pantai Mawun adalah pantai indah yang berbentuk seperti tapal kuda dengan bukit bukit yang mengelilinginya. Pasirnya putih lembut dengan perpaduan warna air berwarna hijau hingga menjadi semakin biru. Jika mau berenang, waspadalah karena ombaknya cukup deras. Berdiri di pinggir pantai saja saya suka merasa diseret seret masuk ombaknya. Pernah loh ada kasus sekeluarga meninggal terseret ombak. Perlu diketahui juga tidak ada penjaga pantai sehingga selalu berhati hati melihat kedalaman air.

Bermain ombak di Pantai mawun
Pantai ini hanya mempunyai fasilitas minim dan hanya tersedia gubuk kayu dimana para warga lokal menjual makanan / minuman ala kadarnya dan ada juga WC buat sekedar berbilas dan buang air. Jadi yang paling ideal jika mau piknik sekeluarga bawalah tikar sendiri dan bekal makanan.

Satu satunya hal yang tidak mengenakkan selama di sini ialah para penjual oleh oleh yang agresif memaksa kita untuk membeli. Huft!

Berlayar di Teluk San Diego

Jumat, 15 Mei 2015 0 komentar

San Diego merupakan salah satu daerah yang cukup populer di California. Cuacanya yang selalu adem sepanjang tahun membuatnya jadi pilihan destinasi yang menarik.

Sore itu, saya bergegas menuju ke harbour untuk ikut naik cruises.
Hari itu masih musim panas dan matahari bersinar seperti biasa. Para bule bule mengenakan baju tipis seadanya. Namun sayang kulit tropis saya belum bisa beradaptasi sebaik itu. Dengan pilihan dresscode paling boring - jaket hitam sedikit tebal dan celana panjang hitam - saya tetap antusias akan mengikuti tur ini sambil menghalau dingin.
Di depan kapal
Setelah mengambil tiket di loketnya yang tak jauh dari pelabuhan, Cruises yang saya naiki yakni Hornblower Cruises & Events rupanya telah memanggil manggil pertanda siap berangkat. Saya pun bergegas masuk ke kapal. Rute yang bakal ditempuh yakni mengelilingi teluk San Diego bagian selatan.
Bersantai di atas kapal
Para penumpang bebas ingin duduk / berdiri di lantai pertama (indoor) atau memilih seperti saya. Berada di outdoor atau lantai dua menikmati hembusan angin. Lama kelamaan, pemandangan pinggiran kota San Diego yang dipenuhi bangunan tinggi berganti dengan biru laut dan langit.
Kota San Diego terlihat dari pinggir harbour front
Salah satu highlight dari perjalanan ini adalah kami mengarungi teluk melewati kolong jembatan Coronado Bridge sepanjang 3.4km yang dicap sebagai jembatan ketiga dengan paling banyak kasus bunuh diri di USA. Jembatan ini menjadi penghubung antara San Diego dengan pulau Coronado, sebuah pulau kecil dimana disana terdapat beberapa fasilitas angkatan lautnya Amerika Serikat. Pantes saja disepanjang teluk ini banyak kapal kapal besar milik pemerintah sepertinya yang sedang terparkir. Tapi jangan salah pulau Coronado ini juga dilirik wisatawan sebagai resort city loh!
Banyak kapal kapal raksasa militer yang sedang parkir
Jembatan Coronado dari kapal
Di penghujung rute cruise ini, saya dapat melihat segerombolan singa laut. Kapal mendekat lumayan dekat hingga tercium bau amis dari binatang ini. Begitu kapal berlalu, mereka pun bersuara "nguik nguik" menyampaikan salam perpisahan. Di situ jugalah kapal berputar arah lalu kembali ke titik awal. Rupanya jika dikit lagi kita berlayar, udah masuk kawasan negara Mexico loh. Paspor mana paspor mana?

Selama perjalanan kurang lebih sejam, hal yang saya sesali adalah punya cemilan karena tidak mampu membelinya di kantin kapan. Udah sedikit harganya mahal pula! Bah!

Pantai Kuta Lombok

Minggu, 10 Mei 2015 0 komentar

Bali punya pantai pantai indah. Salah satunya yang kesohor itu pantai Kuta.
Namun sejak Lombok booming, boleh dikata dua daerah bertetangga ini mulai harus bersaing untuk memperebutkan wisatawan.

Bali memang telah mapan pariwisatanya dan juga terkenal seantero jagat. Hal ini lah yang membuatnya juga kelimpahan banyak pengunjung, macet dan terlalu ramai (kadang-kadang).

Bagaimana dengan lombok? Saya merasa Lombok adalah jelmaan Bali ketika remaja. Masih muda dan perawan. Infrastruktur boleh dikata masih kurang tapi itu tak mengurangi keelokannya.

Kecantikan lombok juga dapat dilihat dari banyaknya pantai pantai indah salah satunya adalah pantai kuta. Tidak tahu juga kenapa pantai ini bernama sama dengan kompetitornya. Mungkinkah berharap dapat menyaingi tetangga sebelah?

Berada di kabupaten Lombok Tengah, pantai putih sepanjang 7,2 kilometer ini terlihat sepi ketika saya datang. Mungkin karena pengaruh jam makan siang yah? Dan memang matahari lombok yang sepertinya ada 2 membuat tidak ada satupun pengunjung di siang hari bolong ini.

Pantai Kuta Lombok
Sepanjang laporan mata, tidak ada pohon atau tempat berteduh, jadi bagi yang mau leyeh leyeh bawa sendiri yah tikarnya. Perhatikan juga kedalaman air dan ombak, sekedar berjaga berjaga karena tidak ada penjaga pantai jika terjadi apa apa. Selebihnya pantai alami ini milik kalian!
pantai-kuta-lombok
Pantai Kuta Lombok

Kalau merasa lapar persis di depan pantai ada restoran Anda yang makanannya enak enak banget. Sila dicoba!

Satu satunya hal yang kurang mengenakkan dari pantai ini adalah beberapa anak anak dan remaja yang mengekor menawarkan dagangannya. Huft!

Grand Central Terminal New York

Selasa, 05 Mei 2015 0 komentar

"Lebih dari sebuah pusat transportasi. Bukan sembarang stasiun"
Begitulah batinku ketika masuk ke Grand Central Terminal yang terletak di 42street New York.

Grand Central Terminal
Kalau di Indonesia, kata terminal berkonotasi negatif. Yang terlintas di pikiranku adalah parkiran yang semrawut, bus tua yang uzur yang kalau batuk batuk mengeluarkan asap hitam pekat. Belum lagi fasilitas dan infrastruktur yang jauh dari standar. Jalan becek, toilet kotor dan calo yang mondar mandir adalah sesuatu yang lebih bisa dikata normal.

Jadi begitu tiba di Grand Central Terminal tak heran saya melongo. Luas, bersih dan indah. The Grand Central Terminal memang tidak hanya mementingkan fungsi tetapi juga tak lupa memasukkan unsur seni di dalam bangunannya. Seperti gambar saya di atas, tengoklah ke atas. Ada lukisan cantik di langit langit berwarna hijaun-nya. Lihat ke bawah, maka saya tersadar menjejakkan kaki pada lantai marbel di sepanjang terminal. Kala itu hari sudah malam, lampu memang dibuat sedikit temaram namun suasana yang dihasilkan jadi berbeda.
Nongkrong di Terminal

Saya sengaja ke sini tanpa punya hasrat mencari bus / subway. Niatnya cuma mau jalan jalan. Dan The Grand Central Terminal ini tau persis banyak turis yang berpikiran sama seperti saya. Tak heran bila akhirnya terminal ini dipenuhi oleh restoran serta tempat belanja dan pasar. Bahkan ada Tour dengan guidenya juga bagi yang berminat dan mau bayar. Kalau saya sih tentu milih yang gratisan, duduk duduk melihat orang dan menghabiskan waktu di tengah dinginnya kota New York.

Tak heran, icon yang kerap muncul di film film Hollywood ini termasuk dalam salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat. Kalau punya waktu senggang, mari kita bersua di sini kembali.

Keindahannya dijadikan gambar di tiket subway (kiri)

Penjual Koran

Kamis, 30 April 2015 0 komentar

Pukul 6.30 pagi, Ayuk (panggilan mbak dalam bahasa Jambi) Iis sudah tiba di toko buku Edison, Jambi dan mengambil jatah korannya sebanyak 30 eksemplar.

Dikala orang baru memulai aktivitasnya, ayuk Iis telah stand-by di persimpangan lampu merah di pasar. Dengan ramah, dia menghampiri setiap mobil yang berhenti dan berharap kaca mobil diturunkan dan ada uang Rp.2.000 yang diberikan.

Ketika saya hampiri pukul 07.00 lebih sedikit, sudah hampir separoh jualannya yang laku.
Namun seiring matahari meninggi, peruntungan makin menipis.
"Nggak pernah lah laku sampe 30" kata ayuk Iis.
"Kalau sudah jam 10, aku baleklah. Panas" tambahnya lagi membetulkan letak topinya.

Meski begitu, tak terlihat dia susah hati menjalankan pekerjaan sampingan ini.
"Enak jual koran daripada nyuci baju orang, Capek!" jawabnya.
"Jualan koran ini paling sehat, olahraga terus" tambahnya lagi yang sudah mulai berkeringat.

Dari rumahnya di Jerambah Bolong (terletak di pinggiran kota Jambi), dia harus merogoh modal awal Rp.3.500 untuk ongkos angkot sekali jalan. Sedangkan gaji sebulan yang ia terima yakni Rp.500.000 ditambah untung Rp.500 per koran yang terjual. Menurutnya tak masalah karena tidak seperti agen, dia tak perlu pusing dengan target yang harus dicapai.

"Kalau dulu lebih enak lagi, jualnyo biso banyak. Kadang pulang masih biso beli nasi bungkus." ceritanya.
"Malahan ado yang ngasih duit bae, dak ambil korannya" tawanya tanpa tedeng aling aling.

Memang makin ke sini, Jambi mulai disesaki penjual koran yang selalu ada terlihat di tiap titik keramaian. Persaingan pun makin tajam.

"Kalau udah ada langgangan enak bisa cepat habisnya."
"Kayak koko disano tuh, langganan tiap hari. Agek seminggu baru bayar" tunjuknya kepada sebuah ruko yang baru buka.

Tak berapa lama dari sisi jalan yang satunya, sebuah sepeda motor berhenti. Tanpa perlu dikomando, Ayuk Iis segera menghampiri motor tersebut. Ayuk Iis memberikan koran. Si pengendara motor memberikan uang lalu meluncur begitu saja. Tanpa komunikasi. Sudah saling mengerti.

Hari ini, jika tidak sehubungan dengan acara kantor, maka saya tidak mungkin berada di sini dengan mata sembab, baru bangun tidur. Dengan berusaha menebalkan muka saya harus turun ke jalan demi ikut mencicipi pekerjaan ini. Gengsi? Pasti iya.
Apalagi ketika berjumpa dengan teman saya yang membawa mobil. Setelah dijelaskan dan saya paksa beli koran, dia pun berlalu.

Menit berlalu saya pun mulai terbiasa. Terbiasa dengan debu dan asap knalpot. Terbiasa mengekor ayuk Iis. Terbiasa ditolak. Tapi hal yang paling bikin jengah adalah tatapan tatapan dari orang lain seperti :

1. Tatapan genit atau senyum yang mengisyaratkan sesuatu.
Eits ternyata bukan saya aja yang merasa begini, namun si ayuk Iis juga saban hari kerap mengalami hal ini.
"Orang tuh tiap hari kayak gitu, genit nian. Dio katanyo mau aku jadi bininya. Aku lah ada suami."
Kata ayuk iis menunjukkan seorang bapak bapak. Untungnya dia beli koran.

2. Tatapan seolah olah saya tak ada
Ini tamparan buatku juga. Kalau biasanya saya juga suka begini kepada penjual koran / yang menjajakan dagangan agar mereka tahu saya tidak tertarik tapi setelah menjalaninya sendiri, rasanya sakitnya tuh disini. Dianggap tak ada itu emang respon yang sangat menyakitkan. yah bagaimanapun penjual koran tetap manusia. Dikacangin tuh nggak asik. Kalau saja yang saya tawarkan mau menoleh dikit aja sambil senyum bilang nggak, itu rasanya lebih ngademin hati. Aku nggak akan maksa beli kok!

3. Tatapan keheranan
Sudah ada tukang tambal cantik, ketua RT cantik, dan kali ini ada penjual koran cantik. Memang bukan pemandangan biasa yang dapat dijumpai setiap harinya. Tapi yah nggak usah gitu juga kali yah ekspresinya? Apa saya aja yang GR? *ups*

4. Tatapan memberikan harapan palsu
Dari balik kaca mobilnya, bapak itu memandangi saya. Karena saya lagi jual koran bukan jual diri maka saya dekati sambil bertanya dari balik jendelanya yang kedap suara "Koran pak?" lalu dia merogoh rogoh kantongnya. Saya pun menunggu. Wah untungnya dia menemukan uang receh. Tapi kok dia diam saja? Sial! rupanya dua ribuan itu untuk biaya parkir masuk ke pasar.

Hingga pukul 8.30 koran yang tersisa tinggal 3 eksemplar namun menjualnya susah sekali. Beberapa memang sudah mendapatkannya dari simpang sebelumnya atau ada yang berdalih dapat membaca di kantor. Daripada nanggung, saya pun akhirnya memilih berjalan ke pasar dan meminta tolong (baca: memaksa) keluarga saya di sana untuk membelinya.

Sayangnya begitu saya kembali ke simpang lampu merah lagi, Ayuk Iis sudah tak tampak lagi. Tidak sempat deh saya berterima kasih karena sudah mengajarkan saya semangat kerja kerasnya dan menghargai sebuah pekerjaan, sekecil apapun itu. 

Semoga ayuk Iis senang akhirnya setelah sekian lama, 30 eksemplar koran habis terjual!

Selamat hari buruh untuk ayuk Iis, teman temannya dan kita semua!

Hidup itu keras. Tapi senyum dulu lah bro!
Photo by : Wahid Nurdin

Norak Bergembira di Luar Negeri

Kamis, 23 April 2015 0 komentar

Sudah lumrah bahwasanya ketika kita baru menginjakkan kaki di daratan baru, maka segalanya terasa menyenangkan. Pemandangan biasa terlihat luar biasa. Makanan yang dimakan terasa asing dan eksotis. Yah ibaratnya sama kali rasanya dengan pertama kali nge-date. Terlambat 15 menit dianggap tidak apa apa. Lelucon basi yang dilemparkan oleh gebetan rasanya lucu sekali hingga bisa mengguncang dunia kita.

Nah begitu juga pas nyampe di Luar Negeri, rasanya tuh bahagia banget. Setiap menit disana sangat berharga. Saya selalu berusaha menggunakan "kacamata" turis walaupun telah hidup berbulan bulan disana agar selalu merasa excited dan mau meng-explor hal hal baru. Saya selalu menenteng kamera atau paling nggak HP selalu standy sehingga jika ada hal unik bisa langsung saya abadikan. Mungkin beberapa orang mikir saya norak banget ih, persis seperti orang kampung keluar kota.

Yah mau gimana, biarin aja. Wong saya jamin, rata rata orang Indonesia yang ke luar negeri pastinya juga akan melakukan beberapa "kenorakan" saya ini :
1. Foto di tempat tempat terkenal.
Kalau baru baru pergi ke luar negeri, liat bus kota aja rasanya beda banget. Akan banyak momen momen dimana kita berhenti dan terpana oleh sesuatu. Meski mungkin gak bagus bagus banget tapi karena sesuatu itu baru yah kita poto deh. Biar heboh, ditambah dengan pose pose yang gak biasa biar lucu seperti minum air mancur patung merlion atau toel patung miring pisa. Yah lumayan buat eksis di social media dan hasilnya banyak yang kasih like dan komen.

Foto di jalan gini aja rasanya keren
2. Makan / Minum makanan yang ada di Indonesia dengan maksud membandingkannya.
Sebenarnya produk makanan / minuman Amerika Serikat sangat mudah dijumpai di Indonesia. Sebut saja McD atau KFC. Namun karena berhubung udah di luar negeri, tentu pengen coba enak mana sih ama di Indonesia? Seperti saat saya di Amerika Serikat, saya tertarik juga ingin mencoba makanan cepat saji di tanah kelahirannya. Penelusuran saya, McD Indonesia lebih ada rasanya mungkin karena telah dicampur bumbu lokal Indonesia atau udah ditambahi bumbu lainnya. Nah untuk KFC, justru saya jarang banget lihat gerai fast food satu ini. Padahal kalo di Indonesia hampir di semua mall orang mengantri. Kalau untuk minuman, Yang paling kerap saya jumpai adalah pamer foto Starbuck karena emang kebetulan kopi asli Seattle ini udah mewabah di dunia dan dengan memegang cupnya aja berasa keren. Saya pribadi bukan peminum kopi hanya menyukai Frapucino Green Tea-nya tanpa whipe cream karena bikin gendut eneg, terlalu manis.

3. Mengkonversikannya ke rupiah.
Ini sebenarnya punya dua sisi. Pertama baik karena ketika belanja kita melihatnya sebagai sesuatu yang mahal jadi bisa membantu mengerem pengeluaran. Tetapi akan jadi jelek kalau kita kelewat sering menghitungnya dalam rupiah. Bisa bisa kita tidak menikmati hidup karena tak sudi mengeluarkan uang lebih yang berimbas ke kurang mendapat pengalaman karena gak rela bayar mahal.

4. Momen pertama kali melihat salju.
Maklum saja karena kita hidup di negeri tropis, salju itu barang langka! Saya dulu memimpikan pengen beneran makan salju yang bersih (yang turun dari langit) terus dikumpulin dalam piring dan dikasih susu kental manis coklat biar kayak es campur. Ah sayang nggak kesampaian. Tapi paling nggak sudah pernah makan salju yang turun dari langit (dengan membuka mulut besar besar) dan dari tanah (mencongkel lapisan salju yang bawah biar bersih).

5. Momen pertama kali naik sport car yang terbuka atasnya.
Wiih keren sekali rasanya. Ketika tinggal di Scottsdale, USA yang merupakan salah satu kawasan orang kaya di USA, mobil mobil mewah itu hal umum. Saya sempat coba naik punyanya host family dan teman sekampus. Ketika rambut acak acakan dibombardir angin, saya tetep mereasa keren. Yang nggak sempat dicicipi itu adalah naik limousine. Padahal ada hampir tiap hari parkir di depan apartemen.Pfft!

6. Lebih terrbuka
Di Indonesia orang berbusana bikini atau pakaian minim memang ada namun tak banyak. Sedangkan di luar negeri contoh saja Singapura yang paling dekat hal ini mudah dijumpai. Tank top, hot pants bersileweran dengan santai. Yah terang saja karena disana mereka tidak merasakan dipanggil, disiulin, digoda, ditanya tanya yang bagi semua wanita di Indonesia pastilah sudah muak mengalami hal ini. Jujur itulah yang membuat saya lebih berani meng-explor gaya berpakaian saya kalau sedang di Luar negeri. Rasanya nyaman dan seneng karena tidak perlu takut ada tatapan pelototan dari para pria.

7. PDA (Public Display Affection)
Dalam bahasa Indonesia-nya yakni mesra mesraan di tempat umum. Di luar negeri mencium pasangan di bibir tentu tidak akan mengundang bisik bisik tetangga. Gelayutan ampe pegel pun nggak ada yang mengubris karena yah..begitulah sudah budaya mereka. Bagi mereka mengekspresikan rasa cintanya di depan umum adalah wajar. Bagi kita yang datang dari budaya timur, awalnya mungkin kaget. Saya masih inget momen momen liat orang french kiss di depan mata. Adegan itu diikuti terus dari balik kacamata hitam biar nggak ketahuan. Lama lama mah nikmati terbiasa juga hahah. Dan kalau pun saya punya pacar, yah tak munafik mungkin akan seperti itu juga *eh*

Hal hal diatas hanya dirasakan ketika berkunjung ke luar negeri yang lebih berkembang dari Indonesia saja. Biar norak yang penting happy. Setuju?

Apa saja kenorakanmu ketika di luar negeri?

Kisah di balik Pantai Seger Lombok

Minggu, 19 April 2015 0 komentar

Alkisah, hiduplah seorang putri bernama Mandalika yang merupakan putri Raja Tonjang Beru dan permaisuri Dewi Seranting dari kerajaan Tanjung Bitu di selatan pulau Lombok. Seperti cerita rakyat pada umumnya, dikisahkan sang putri ini memiliki segala kesempurnaan yang diinginkan wanita. Pintar, cantik, bijaksana dan tentunya kaya raya dong. Nah keelokannya ini membuatnya tersohor hingga kemana mana walau tanpa pengaruh social media tentunya. Para pangeran yang melihat putri Mandalika pun dijamin mabuk kepayang cinta dibuatnya. Mereka pun berebutan mempersunting gadis ini. Namun, sayangnya sang putri rupanya PHP. Dia tidak menerima namun juga tidak menolaknya pangeran pangeran ini.

Pengaruh cinta yang maha dahsyat ini pun mengakibatkan para pangeran ini membuat inisiatif sendiri ala gentlemen zaman dulu. Perang! Yak siapa yang menang dialah yang berhak bersanding dengan putri Mandalika. Dikira barang apa diperebutkan? heheh

Singkat cerita kabar perang yang tentu akan mengakibatkan pertumpahan darah sampai hingga ke sang putri. Tentu dia gusar menjadi penyebab dari semua ini. Dia pun bersemedia dan dengan kearifan tingkat tinggi dia pun mempunyai solusi jitu. Lalu dipanggillah pangeran pangeran yang telah buta oleh cinta ini di sebuah daerah. Mereka pun berbondong bondong datang penasaran siapakah yang akan memiliki putri kesayangan Lombok ini?

Sang putri Mandalika yang telah ditunggu tunggu tiba dan ia menaiki sebuah bukit. Tak berapa lama ia pun menyampaikan sepatah kata hasil renungannya, bahwa ia tak berpihak kepada siapa pun. Dia memilih lebih dinikmati oleh seluruh masyarakat Lombok dan oleh karena itu daripada memilih satu pangeran dan menyakiti hati yang lain lebih baik dia mengorbankan diri sendiri.

Semua kaget dengan pernyataan tersebut. Lebih kaget lagi setelah itu sang putri langsung terjun menenggelamkan diri di laut. Orang orang berusaha menyelamatkannya tapi ajaibanya tidak ada jejak sedikitpun yang ada malahan cacing laut yang muncul dari batu karang dalam jumlah banyak. Bukannya geli, namun cacing cacing ini memancarkan aneka cahaya berwarna warni. Masyarakat percaya inilah perwujudan perkataan si putri tadi. Mereka pun berbondong bondong mengambilnya lalu dikonsumsi agar tidak menyianyiakan pengorbanan sang putri jelita tersebut.
Pantai Seger, Lokasi Bau Nyale di Lombok

Untuk mengenang cerita ini, di pantai seger dibuatlah patung putri mandalika yang seolah sedang dikejar kejar beberapa pangeran. Konon, walaupun hanya cerita rakyat, kemunculan cacing cacing laut tersebut benar adanya sehingga di tiap tahun bulan Februari dan Maret, diadakanlah perayaan Bau Nyale. Dalam bahasa sasak, Bau berarti mencari dan Nyale adalah cacing laut tersebut.

Ketika akhir maret saya ke pantai ini, sudah tidak ada orang.
"Sayang sekali festival baru saja selesai. Kemarin di sini ramai sekali. Ribuan orang datang buat menangkap cacing tersebut" ucap guide saya.

Pantai yang tepat bersebelahan dengan Hotel Novotel tersebut cukup unik. Pasirnya berukuran lumayan besar seperti biji merica sehingga kalau kita berpijak di pasirnya, langsung melorot ke dalam seperti terhisap. Untuk berenang tidak disarankan karena karang karangnya yang tajam dan permukaan laut yang tidak rata dapat membahayakan. Selain itu, sepertinya air sedang pasang sehingga saya tak bisa mendekat ke patung si putri dan hanya bisa memotret dari kejauhan.

Patung Putri Mandalika

Pilihan lain yang dapat dicoba adalah hiking ke sebuah bukit di samping patung putri mandalika atau bermain di pantai di belakang bukit tersebut. Yang kurang mengenakkan hanya satu, yakni ketika lagi santai duduk duduk di gubuk jerami, para penjual oleh oleh tetep ngikutin dan begitu agresif menawarkan belanjaan meskipun sudah ditolak. Berasa putri Mandalika yang dikejar pangeran deh. Apa iya aku perlu nyebur dulu biar mereka bungkam? :p

 
Wisata © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets